Showing posts with label Contemplating. Show all posts
Showing posts with label Contemplating. Show all posts

Saturday, April 11, 2020

Menjaga Karya Saat Bekerja dari Rumah

Sebagian orang mungkin tidak percaya, jika saya mengatakan ada seseorang yang mendapatkan gelar profesor sekaligus jabatan tertinggi dari sebuah universitas ternama di dunia hanya dalam waktu empat tahun, setelah dinyatakan lulus sarjana. Orang tersebut adalah Isaac Newton, salah satu ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Newton mendapatkan posisi sebagai Professor Lucasian dari Universitas Cambridge, Inggris  pada usia 27 tahun! Sebuah jabatan yang juga dipegang oleh fisikawan ternama Stephen Hawking pada masa berikutnya. 

Hal menarik dari Newton adalah, pencapaian tersebut ia raih berkat karya-karya besarnya yang justru tidak dilahirkan saat ia berkerja dan berkarya di lingkungan kampus. Namun saat ia berkarya dari rumahnya, di sebuah desa di Inggris, saat negara tersebut harus lockdown.
  
Kala itu terjadi sebuah peristiwa besar di Inggris yang dikenal sebagai The Black Death. Akhir tahun 1665 hingga 1666, sekitar seratus ribu orang meninggal dunia di kota London. Sebuah wabah besar akibat penyakit pes bubo (bakteri pestis yersinia) yang dibawa oleh kutu-kutu dari tikus-tikus got. Raja Charles II dan kalangan istana melarikan diri ke Oxford. Sebagian besar dokter, pengacara, pedagang dan kaum kaya berbondong-bondong meninggalkan London. Penduduk miskin terpaksa bertahan sambil menyaksikan wabah mematikan itu menggerogoti orang-orang terdekat mereka. Karena semua universitas ditutup, Newton pulang ke desanya di Woolsthorpe, Lincolnsire, sebuah desa yang jauh dari kota London setelah ia baru saja dinyatakan lulus sarjana dari Universitas Cambridge.



Tuesday, October 31, 2017

Tumpukan Koran (Bekas)

Tumpukan Koran (Bekas).



Mungkin sudah masuk tahun ke-4 semenjak saya memutuskan berlangganan koran Kompas minggu.
Saat ini saya sedang sibuk mencari pengepul koran yang amanah yang mampu membayar koran bekas saya dengan harga bagus...he he. sebenarnya sedih juga sih. sudah lama saya menyimpan koran-koran tersebut. Semenjak pertama kali tinggal di kosan kawan dan semenjak masih bujangan. Yang saat ini terkumpul mungkin hanya setengahnya dari jumlah koran yang saya punya. setengahnya? hilang entah kemana...ada kali 20 kiloan.

Koran bekas yang sekarang mungkin sekitar 35 kiloan. kan lumayan kalau perkilonya 3000 perak :)

Sebenarnya saya ingin mengajak Anda sedikit mendengarkan cerita dan pemikiran saya. 

Tumpukan koran (bekas) credit: pondokibu.com

Sunday, July 30, 2017

Tahun Ajaran Baru

Bismillah.

Tak terasa sudah memasuki tahun ajaran baru kembali.

Saya begitu bersyukur kepada Allah SWT atas semua yang dikaruniakannya selama setahun sebelumnya.

Menempatkan rasa syukur tersebut adalah dengan berbuat lebih baik lagi di tahun ini. Masih banyak 'PR' pribadi dan sebagai seorang guru yang perlu dicapai. Semuanya membutuhkan upaya yang tidak kecil. Keteguhan hati, kesabaran, dan tentunya perwujudan doa-doa kepada-Nya.

Semoga di tahun ajaran baru ini saya, Anda, dan kita semua sebagai pendidik mendapatkan kemudahan dan keberkahan selalu atas segala aktivitas kita.

Terima kasih.

Okky Fajar Tri Maryana

Wednesday, July 5, 2017

Silaturahmi

Hari raya Idul Fitri 1438 H dan Liburan sekolah menjadi satu.

Tahun ini saya bersama istri dan si kecil tidak melakukan kegiatan mudik. Kami hanya di Bandung. Ya, hanya di Bandung dengan beberapa kali berkunjung ke tempat kerabat dan rekan orang tua siswa yang kami kenal.

Bapak, Ibu dan kedua adik perempuan saya datang ke Bandung. Kami sangat senang sekali terutama si kecil. Liburan kami menjadi ramai.

Setelah melakukan kunjugan ke beberapa kerabat yang sesungguhnya termasuk kerabat sangat jauh ditambah dengan orang tua murid yang tidak ada hubungan saudara sama sekali, kami merasa tidak sendiri tinggal di Bandung.

Banyak orang yang mengenal dan mengasihi kami. Maka dari itu saya berkewajiban untuk menjaga tali silaturahmi tersebut.

Bagi saya silaturahmi adalah bentuk investasi yang sangat penting dan berharga. Mungkin tidak dapat dirasakan manfaat besarnya saat ini. Tapi suatu saat nanti.

Nilai inilah yang diajarkan oleh ibunda saya yang saya ingat sampai sekarang.

Semoga kami termasuk orang-orang yang menjaga tali persaudaraan.

Sunday, June 4, 2017

Cukup

Bismillah.

Cukup.

Selama bulan Ramadhan tahun ini saya kembali merenungi makna kata "cukup".

Merasa cukup adalah sesuatu yang mahal untuk dimiliki. mengapa? sebab tidak semua orang memilikinya. Sebagian besar.

Dengan merasa cukup maka akan terlahir pribadi yang sederhana dalam menjalani hidup. Begitu pikir saya.

Apa kamu sudah merasa cukup dalam hidup kamu? berkecukupan? segala sesuatunya telah dimiliki?

Ternyata masalah cukup bukan perkara memiliki dan hanya soal kepuasan terhadap sesuatu lho.

Menurut ahlinya merasa cukup atau "self Suffeciency" itu adalah rasa aman dalam penghargaan diri, di mana setiap orang tahu di mana letak pusat penghargaan terhadap dirinya sebagai orang yang bisa dihormati. 

Efek utama dari orang yang berhasil memperjelas kecukupan bagi dirinya yaitu mereka ini tidak mempunyai kebutuhan untuk mendapatkan kesan positif orang lain terhadap dirinya sehingga ia semakin lama semakin menjadi pribadi yang tulus dan khas. Kontrol hidupnya ada pada dalam dirinya bukan dari pihak eksternal.

Itu sepertinya catatan singkat saya pada Ramadhon tahun ini.

semoga memberikan manfaat ya :)

Monday, July 25, 2016

Setiap Hari, Setiap Pagi, ....

Mungkin sketch-note di bawah ini sedikit banyak mewakili kita.

Setiap hari, setiap pagi......kita tidak bisa lepas dari gawai dan sosial media.

Rasa-rasanya dunia kita menjadi begitu kecil, dan rasa ingin tahu kita atas banyak hal semakin banyak. KEPO kita semakin gede. hehe

Apalagi menyangkut info orang-orang di sekitar kita atau juga kawan, sahabat, kerabat, relasi yang berada jauh. Kita pun menjadi stalker setia...

Ini hanya coretan sederhana saya, semoga menjadi pengingat dan mengajak kita semua untuk berpikir.


Salam hangat

Okky 



 




Monday, February 8, 2016

Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 5)

coffee and tea
Minum Kopi atau Teh (Sketsa oleh : Okky)
Pada bagian kelima ini, hal lain yang dapat menyalakan energi kreatif kita adalah





dan segala minuman yang dapat memanjakan lidah serta pikiran kita.

Selamat menikmati!



Untuk kiat - kiat sebelumnya silahkan klik link berikut :



Tuesday, November 17, 2015

Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 3)

Pada bagian ke-3 ini saya ingin menambahkan perihal yang dapat menyalakan energi kreatif kita yaitu,


energi kreatif
Designed by : okky ftm







Untuk saya berjalan yang menyenangkan akan mengundang banyak ide-ide di kepala. Berjalan merupakan cara tersendiri otak kita mengolah gagasan-gagasan yang ada.

Tapi mesti tetap harus waspada, jangan sampai karena asiknya berjalan dan berpikir anda disenggol kendaraan :)




Sunday, October 18, 2015

Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 2)

Setelah "bercakap-cakap" (silahkan lihat link berikut), kiat untuk menyalakan energi kreatif kita selanjutnya adalah

Passion.


Gairah atau keinginan besar melakukan sesuatu adalah salah satu modal kita dalam berkarya. 

Ketika kita mampu memunculkan gairah kreativitas dalam diri, niscaya karya dengan nilai kreativitas tinggi akan lahir. Untuk saya biasanya dalam memunculkan gairah terhadap sesuatu adalah dengan memikirkan manfaat dan keuntungan jangka panjang yang akan saya peroleh. Bisa juga dengan memikirkan kenikmatan proses yang akan kita dapatkan ketika kita melakukan hal sesuatu tersebut.

passion sketch
Designed by : Okky FTM



Friday, March 13, 2015

Ikan

Sepertinya Albert Einstein sedang berkelakar ketika mengatakan,

"Jika kita menilai seekor ikan dari caranya memanjat pohon, maka kita akan menilai bahwa ikat tersebut sangatlah bodoh."

Namun sepertinya tanpa kita sadari, mungkin ia sedang membantu kita menaruh pondasi pendidikan di dunia modern. Pendidikan berbasiskan kemanusian.

Sebagai orang tua dan pendidik, sepertinya akan menjadi PR tersendiri untuk saya. Betapa perhatian saya terhadap pendidikan humanis harus semakin ditingkatkan. Dimana kecerdasan majemuk setiap anak harus lebih diperhatikan.

Agar tidak salah menilai dan mendidik anak. Maka satu-satunya jalan yang pertama kali harus dilakukan adalah mencoba memahami mereka sebaik mungkin.


Salam


Wednesday, June 11, 2014

5000 Tahun

Selalu menyenangkan merefleksikan sesuatu. Mungkin ini saja malam ini.

Baru saja saya mengikuti suatu ceramah singkat inspiratif dalam suatu forum. Satu dari seorang fisikawan senior dan satu lagi dari seorang guru. Dua profesi yang saya kagumi sampai saat ini.

Nah, apanya yang 'Nah'?

Fisikawan senior itu bercerita tentang pemikirannya, lebih tepatnya ia bercerita tentang masa kritis alam semesta. Tentang seuatu yang bagi kepala saya rumit pada mulanya. Namun, karena beliau menjelaskan dengan apik, santun dan penuh ketenangan. Akhirnya menjadi tetap 'agak' rumit bagi kepala saya..hehe

Bagi saya tidak menjadi masalah Karena itu kajian tingkat lanjut..

Yang menarik dan yang saya masih ingat adalah ketika ia mencoba merefleksikannya dalam nilai-nilai pendidikan yang ketat yang seharusnya kita semua memiliki. Namun disampaikan dengan penuh keterbukaan pikiran. Beliau mengulas tetang suhu alam semesta, energi gelap dsb. dipenghujung ceramahnya ia hanya menawarkan sebuah refleksi,

Apakah semua itu terjadi dengan kebetulan atau ada suatu diluar itu. Atau memang berhenti pada grand design yang nantinya diserahkan kepada Anda? (beliau berkata kepada hadirin)

Apakah akan berujung Anda percaya dengan Tuhan itu ada atau tidak, itu kembali kepada Anda?

Yang jelas kita semua (manusia) tidak dapat membuktikan siapa yang benar. Salah satu sebabnya adalah peradaban kita hanya berumur kurang lebih 5000 tahun (atau taruhlah ratusan ribu tahun bila manusia purba dihitung-tambahan saya). Sungguh sangat kecil bila dibandingkan dengan umur alam semsesta.

Pada bagian ini sesungguhnya saya agak kurang sepakat. Namun sangat menarik bagi saya cara pandang beliau. akhirnya yaaaa..saya lengkapi dengan nilai-nilai kebenaran yang saya pegang. Tapi tentu tidak saya sampaikan kepadanya. Cukup dalam pikiran saya.

Meskipun setelah persentasi, kita masih sedikit diskusi hingga jam makan siang. Tapi tidak satu pun di antara kami yang menyampaikan nilai-nilai ketuhanan yang kami miliki, meski saya tahu beliau adalah seorang nasrani yang taat. Kami sebatas membahas fisika.

Saya sungguh menghargai dan menghormatinya.

Pada intinya, sekali lagi saya tertarik dengan cara pandang Beliau.

Mungkin selanjutnya akan masih sangat berkaitan dengan cerita saya tentang seorang guru yang berbagi di forum tersebut...hehehe.

Tapi lain waktu sajalah. sudah malam...hehe

Semoga memberikan sedikit refleksi

sukses selalu


Wednesday, November 20, 2013

Pluviophile



Bismillah.  

Ah ya..ternyata saya diberitahu kalo saya lumayan mengidap ini...hehehe. 

apakah sahabat mengalami hal yang sama dengan saya?




Saturday, July 20, 2013

Ya, Memang Harus Mencari

Nah, akhirnya saya bisa share ide sederhana ini.

Setelah cukup lama (hehehe. gak juga sih!) menemukan Image ini dan merenungkan ungkapan di dalamnya.  Rasa-rasanya saya ingin berbagi kepada Anda semua.

Saya menemukan Image quotes Steve Jobs ini di Mac. adik saya. Karena dia lagi kerajingan Mac. jadi mungkin dia eksplorasi terus apa yang berkaitan tentang Apple. Saya pun jadi ikut-ikutan bedah-bedah Macbook. Sangat menarik dan menantang. Yah meski hati dan tangan saya masih terpenjara oleh Windows, hehehe.

Image berikut, mengingatkan saat dahulu saya menjadi mahasiswa baru. Apakah saya bisa bertahan/selamat dan menikmati kuliah di jurusan fisika. Ternyata jawaban yang saya dapatkan setelah saya berdiskusi dengan salah satu dosen saya. Cintailah fisika. Kalau belum juga cinta, Carilah cara biar mencintainya.

Pun ketika saya pertama kali diangkat menjadi  seorang guru di sekolah 'sejuta mutiara' kota Bandung.

Ternyata sama.

Itu. Yang. Saya. Temukan. Kembali. hahahahaha.

Ok, Selamat merenungi ungkapan orang ini.



Saturday, March 16, 2013

Memperbaiki Kancing Sweater

Bismillah.

Kancing Sweater kesayangan akhirnya terlepas juga. Sabtu pagi.
Demi memenuhi rasa estetika dan agar dapat dipakai kembali maka aku harus segera memperbaikinya.

Berhasil aku mendapatkan jarum dan benang berwarna hitam. Aku pun mulai memperbaiki.
Kala hendak memasukkan benang ke dalam lubang jarum.

Aku merindukan orang yang selalu memintaku memasukkan benang ke dalam lubang jarum karena matanya sudah tak mampu. ibuku.

Kini suara permintaan itu tak akan pernah kudengar kembali. Selamanya.

Aku merindu lubang jarum dan benangnya menyapaku kembali.

Friday, December 7, 2012

Pada senyum dan tawa mereka..



Menjelang akhir pekan. Aku tak membawa pelajaran yang besar kecuali ini.

Pada setiap wajah mereka yang tertutup senyum dan tawa. Aku tak tahu ada berbagai masalah yang tumbuh. Menghadang mereka. Bergelayut pada punggung murid-muridku yang sedang tumbuh. 

Aku bersama teman guru lainsekuat tenaga mengawal mereka. Jika mereka mencari solusi dengan menjauh dari-Nya. Semoga kami mampu menarik tangan mereka untuk kembali. Jika mereka semakin mendekat pada-Nya. Kami tentu sangat bahagia. Betapa nilai kebaikan akan mengucur keras. InsyaAllah. 

Aku mungkin tak tahu persis segala masalah yang membebani kepala mereka. Dan aku tak perlu mengusik bila memang tak ingin diberi tahu. Tapi aku siap mendengarkan kapan pun. Bukankah kebutuhan paling mendasar setiap kita adalah untuk didengarkan dan dipahami 

Aku hanya bisa menyimpan doa untuk mereka pada shalat-shalatku. Pada setiap kesadaranku akan kebaikan yang besar. 

Hanya kepada-Nya lah aku mengharapkan segala kebaikan untuk mereka. 

Dan Hanya kepada-Nya lah aku memohon kekuatan untuk mengawal mereka. Meski hanya beberapa saat.

Monday, December 26, 2011

Profesor di Persimpangan Jalan

Sosok itu sangat kukenal.
Empat tahun sudah aku bersamanya. Dua tahun lebih aku telah meninggalkan kampus. Mencari kehidupan sesungguhnya. Membuktikan dan menjalani sebagian besar nasihat-nasihatnya. Hingga kini.

Pagi itu aku bertemu kembali dengannya.

Menyapanya di persimpangan jalan.

Seorang fisikawan yang dimiliki negeri ini. Namun tak banyak orang awam mengenalnya. Tak banyak pula berita mengenainya. Dalam lingkungan Ilmiah (khususnya dunia fisika) beliau cukup dikenal baik. Banyak pula relasinya. Dari macam orang sipit timur jauh. Jepang. Hinggapara ilmuan tinggi besar ras kaukasoid eropa.

Apa yang akan ku ceritakan dengan ringkas ke depan di tulisan ini adalah bukan tentang perjalanan hidupnya. Bukan pula tentang hubungannya dengan fisika. Bukan, bukan sama sekali.

Aku hanya akan sedikit bercerita tentang sebuah perasaan dalam hati ini. Tak enak rasanya bila tidak dibagi kepada orang lain. Sebab bagiku. Perasaan ini begitu indah.


Aku masih duduk-duduk di pinggir jalan menunggu kawan dengan sepeda motornya. Tentu pagi itu aku hendak berangkat kerja. Ke sekolah lebih tepatnya. Tak beberapa lama sosok itu hadir di hadapanku. Tiga meter kurang lebih jarak kami. Ia berjalan kaki sambil menunduk. Mengenakan rompi dan tas yang biasa ia pakai. Dandanan dan sisiran rambut seperti biasa. Tak berubah semenjak pertama aku mengenalnya.

Apa yang berubah? Aku tak yakin dengan pasti. Rambutnya yang telah banyak memutihkah? Atau keriput yang semakin banyakkah? Secara teori sih iya. Namun aku tak perlu lah memastikan itu.

Ia masih saja berjalan menunduk ketika aku sudah berdiri menunggu di hadapannya. Ia melihat ke arahku. Namun ia langsung kembali menunduk. Mungkin pikir beliau aku adalah orang yang biasa berlalu lalang. Aku tetap berdiri dan memasang senyum. Akhirnya beliau kembali melihat ke arahku. Ia baru menyadari. Bahwa laki-laki yang dari tadi berdiri sambil menyebar senyum hingga mungkin giginya telah mengering adalah salah satu mahasiswanya. Di jurusan fisika.
Ia membalas dengan dengan senyuman sambil berkata “ Oooohh, Kau!” dengan logat batak yang telah tercampur sedikit rasa sunda.

Tak banyak kami berbincang. Karena beliau dikejar waktu untuk mengajar di kampus. Bagiku itu bukan masalah. Namun hingga beberapa detik saat bersamanya aku merasakan desiran rasa bahagia di hati ini. Entah mengapa. Begitu nyaman.
Dan aku masih juga memasang senyum untuknya. Biarlah gigi ini mengering.


Ia kemudian pamit kepadaku untuk mengejar bus yang akan mengantarnya ke kampus.

“ Ya Pak, silahkan” ucapku

Beliau kembali berjalan menunduk menuju tempat berhentinya Bus. Dan aku masih disini. Berdiri dipinggir jalan dan menatap punggungnya dari kejauhan.

Pikiranku kembali melayang saat aku masih duduk di bangku kuliah dahulu. Betapa banyak kata-katanya yang telah menyita perhatianku. Menginspirasiku. Masih ingat di kepala ini bagaimana ia dulu berkata dengan lincah.
Bahwa pantang orang fisika berkata tidak mampu, apabila ditawari sebuah proyek. Orang fisika harus mampu bertanggung jawab. Masalah gagal itu urusan belakangan yang penting kita telah membuat orang lain percaya kepada kita dan berusaha sekuat tenaga.


Dahulu ia dengan tegas dan wajah galak menegurku ketika aku tidak mampu menjelaskan dan membuktikan persamaan model matematika yang aku usulkan pada penelitianku.


“Apa Kau main sulap Okky? Tiba-tiba muncul persamaan itu. Dari mana? Tak boleh itu!!” Aku masih ingat perkataannya.

Perkataan yang telah membuat aku belum layak lulus seperti dua partnerku yang lain. Perkataan yang membuat aku mengurung diri di kosan beberapa minggu untuk mencari jawaban atas pertanyaanya. Pertannyaan yang menyebabkan aku harus menulis ulang skripsiku. Menyebalkan memang. Sangat sedih bahkan.

Apa aku membencinya?


Tidak kawan. Sungguh aku tidak sedang berkata bohong padamu. Justru semenjak itu hingga sekarang aku menyadari bahwa beliau sedang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab kepadaku.

Kejujuran dan tanggung jawab itu tidaklah mudah Bung.

Sungguh ia adalah guru yang telah menginspirasiku.

Bila boleh jujur aku ingin sepertinya. Aku merindukan perjumpaan seperti itu dengan murid-muridku. Ketika aku telah menua nanti. Telah berkurang kemampuan akal ini. Salah seorang muridku menyapaku dengan rasa senang dan bangga seperti yang kurasakan saat itu.

Mungkin saat itu aku telah lupa kebersamaan apa atau pelajaran apa yang telah kuberikan padanya. Aku tak ingat meski sekeras mungkin aku mencoba mengingat. Mungkin juga aku telah lupa namanya. Namun satu hal yang pasti kutahu dari wajah muridku itu. Bahwa ia bahagia bertemu denganku. Ia tunjukkan melalui senyumnya yang tulus.
Dan mencintai ku melalui sepotong ucapan,


“Pak Okky sehat Pak?”


Hanya kepada Allahlah aku berharap dan hanya kepada-Nya kebaikan kami dijadikan tabungan untuk bertemu kembali di Syurga-Nya.



Ditulis di rumah sederhana tempat dahulu berkumpul mimpi-mimpi saat kecil
26 Desember 2011. 09.53





Saturday, August 6, 2011

Perihal menyebrang jalan

Suatu sore di bulan Ramadhan yang didalamnya terdapat sebuah pelajaran bernilai.

Bagiku dan mungkin bagi sebagian kita berujar bahwa perihal menyebrang jalan adalah suatu yang biasa dan mudah untuk dilakukan. Kata tersulit yang muncul diantaranya mungkin hanya "engkau haruslah berhati-hati". Biasa kita dengar dan biasa kita pahami.
Tapi tidak untuk wanita paruh baya itu. Baginya menyebrang jalan adalah sesuatu yang besar. Perihal yang membebani bagian hidupnya hingga sebagai sebuah pencapaian besar bila sudah melaluinya. Di akhir pencapaiannya tersebut ia rela untuk mengajak orang yang menolongnya menyebrang jalan untuk singgah dirumahnya. Tulus menawarkan sebagai ungkapan terimaksihnya yang sangat besar.

Friday, February 13, 2009

self-leadership

Pal, have you ever heard this beautiful phrase?
“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to chance the world, so I tired to chance my nation. When I found I could not change the nation, I began to focus on my town. I could not chance the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is my self, and suddenlyI realize that if long ago I had change my self, I could have made an impact on my family. My family and I could have made an impact on our town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”
This phrase shows me that core of the leadership is self-leadership. It is simply tips and important for me. “Choose something small you can start doing now that will help you achieve a bigger goal or resolution.” Steven R. Covey said.
I, you and every person do not like regret. In order to, we have to start from our selves. Think small things and do little kindness. With full surrender, the alteration towards of goodness could we get.

Monday, November 17, 2008

Lintang

Lintang


Semua yang pernah membaca atau menonton kisah Laskar Pelangi tentu mengenal dengan sangat akrab tokoh yang namanya saya tulis sebagai judul tulisan ini seperti seorang ayah yang mengenal anak kandungnya sendiri. Dan tulisan ini hendak menyampaikan sebuah motivasi besar yang penulisnya, Andrea Hirata, menguraikan melalui tentang tokoh ini. Aku ingin menuliskan kembali karena bagiku ada atau tidak sesungguhnya sosok lintang itu, yang pasti narasi andrea telah memberikan ruang tersendiri di benakku untuk lebih berani kembali mencintai ilmu dan menggapai mimpi.

Andrea menulis tentang sosok ini, “ Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tidak punya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tidak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak ada habis-habisnya..

Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, calana, dan dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh kuasa Allah, didalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rangkaian kata-kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kecermelangan pemikiran yang gilang-gemilang. Di balik tubuhnya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutly beatiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir disebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari keluarga yang tak satu pun bisa membaca”.

Lihat kawan bagaimana Andrea menilai sahabatnya ini. Andrea memberikan gambaran tokoh ini atas dasar motivasi besar yang dapat ia ambil dan yang ingin ia bagikan kepada kita. Sebuah keterbatasan yang jarang kita temui, tetapi menimbulkan kekaguman atas keunggulan yang sedemikian harum. Kemudian Andrea menulis kembali. “Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang kutangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontarkan tepung sari, ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik.”

“Jika kami kesulitan, Ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecermelangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikitpun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang miskin duafa adalah mutiara, gelana, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.”

Malam ini aku mendapatkan suatu pelajaran sikap. Sikap sebagai penuntut ilmu yang tulus dalam memaknai arti penggabungan antara kecerdasan dan kerendahan hati. Aku belajar dari seorang anak yang bersinar diantara rimbunan daun hutan masyarakatnya. Anak itu adalah lintang yang tak ku kenal. Salamku untukmu lintang


Keinginan Kuat

Keinginan kuat


Sungguh dua kata dalam judul tulisan ini kuyakini benar adalah ruh dari setiap aktivitas manusia. Ia pun laksana bensin untuk menggerakkan piston mesin sebuah kendaraan. Dua kata ini yang sering sekali kita semua dengar pada setiap pelatihan pelatihan motivasi menggapai kesuksesan hidup, Apapun bentuknya. Begitu besar dua kata ini memiliki pengaruh sehingga aku pun ikut mengambil bagian dalam merasakan beberapa keutamaan ketika aktivitas kehidupanku menggandeng kedua kata ini.

Melalui buku yang kubaca, berjudul laskar pelangi. Penulisnya mencoba mengokohkan ketangguhan dua kata ini dalam sebuah cerita sederhana yang bagiku semakin memperindah paradigma keampuhan sebuah keinginan kuat. Dalam buku tersebut penulisnya bertutur “hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Siapapun tak pernah membayangkan sekolah kampung Muhammadiyah melarat dapat mengalahkan raksasa-raksasa di meja mahoni itu, tapi keinginan kuat, yang kami pelajari dari petuah Pak Harfan sembilan tahun yang lalu di hari pertama kami masuk SD, agaknya terbukti. Keinginan kuat itu telah membelokkan perkiraan siapapun sebab kami tampil sebagai juara pertama tanpa banding. Maka barangkali keinginan kuat tak kalah penting dibanding cita-cita itu sendiri.”

Membaca tulisan ini, pikiranku melayang ke suatu hari kurang lebih empat tahun yang lalu ketika aku duduk bersama sahabat-sahabatku mendengarkan nasihat yang berharga dari salah seorang guru ngajiku. Beliau berujar “ ..biasakanlah tetapkan sebuah tujuan tinggi dalam melakukan setiap aktivitas kehidupan kalian. Karena sebuah tujuan yang tinggi yang ditempuh dengan keinginan yang kokoh akan memunculkan kebaikan-kebaikan yang diluar perkiraan kita sebagai bonus. Kebaikan-kebaikan tersebut akan menentramkan dengan segera dan tidak melengahkan dalam meraih tujuan yang tinggi tersebut.” Dalam hati aku bertanya, seperti apakah tujuan yang tinggi tersebut. Sebelum sempat pertanyaan keluar dari mulutku. Beliau kembali berujar “ Tujuan tinggi dan paling tertinggi adalah keihlasan dalam menggapai Keridhaan Allah SWT”.

Melalui nasihat ini beliau melepasku ketika aku berpamitan untuk melanjutkan studi tingkat tinggi di bandung.