Saturday, April 11, 2020
Menjaga Karya Saat Bekerja dari Rumah
Tuesday, October 31, 2017
Tumpukan Koran (Bekas)
![]() |
| Tumpukan koran (bekas) credit: pondokibu.com |
Sunday, July 30, 2017
Tahun Ajaran Baru
Wednesday, July 5, 2017
Silaturahmi
Sunday, June 4, 2017
Cukup
Monday, July 25, 2016
Setiap Hari, Setiap Pagi, ....
Monday, February 8, 2016
Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 5)
Tuesday, November 17, 2015
Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 3)
![]() |
| Designed by : okky ftm |
Sunday, October 18, 2015
Menyalakan Energi Kreatif Kita (Bag. 2)
Passion.
Friday, March 13, 2015
Ikan
"Jika kita menilai seekor ikan dari caranya memanjat pohon, maka kita akan menilai bahwa ikat tersebut sangatlah bodoh."
Namun sepertinya tanpa kita sadari, mungkin ia sedang membantu kita menaruh pondasi pendidikan di dunia modern. Pendidikan berbasiskan kemanusian.
Sebagai orang tua dan pendidik, sepertinya akan menjadi PR tersendiri untuk saya. Betapa perhatian saya terhadap pendidikan humanis harus semakin ditingkatkan. Dimana kecerdasan majemuk setiap anak harus lebih diperhatikan.
Agar tidak salah menilai dan mendidik anak. Maka satu-satunya jalan yang pertama kali harus dilakukan adalah mencoba memahami mereka sebaik mungkin.
Salam
Wednesday, June 11, 2014
5000 Tahun
Nah, apanya yang 'Nah'?
Bagi saya tidak menjadi masalah Karena itu kajian tingkat lanjut..
Apakah akan berujung Anda percaya dengan Tuhan itu ada atau tidak, itu kembali kepada Anda?
Saya sungguh menghargai dan menghormatinya.
Pada intinya, sekali lagi saya tertarik dengan cara pandang Beliau.
Mungkin selanjutnya akan masih sangat berkaitan dengan cerita saya tentang seorang guru yang berbagi di forum tersebut...hehehe.
Tapi lain waktu sajalah. sudah malam...hehe
Semoga memberikan sedikit refleksi
sukses selalu
Wednesday, November 20, 2013
Pluviophile
Saturday, July 20, 2013
Ya, Memang Harus Mencari
Setelah cukup lama (hehehe. gak juga sih!) menemukan Image ini dan merenungkan ungkapan di dalamnya. Rasa-rasanya saya ingin berbagi kepada Anda semua.
Saya menemukan Image quotes Steve Jobs ini di Mac. adik saya. Karena dia lagi kerajingan Mac. jadi mungkin dia eksplorasi terus apa yang berkaitan tentang Apple. Saya pun jadi ikut-ikutan bedah-bedah Macbook. Sangat menarik dan menantang. Yah meski hati dan tangan saya masih terpenjara oleh Windows, hehehe.
Image berikut, mengingatkan saat dahulu saya menjadi mahasiswa baru. Apakah saya bisa bertahan/selamat dan menikmati kuliah di jurusan fisika. Ternyata jawaban yang saya dapatkan setelah saya berdiskusi dengan salah satu dosen saya. Cintailah fisika. Kalau belum juga cinta, Carilah cara biar mencintainya.
Pun ketika saya pertama kali diangkat menjadi seorang guru di sekolah 'sejuta mutiara' kota Bandung.
Ternyata sama.
Itu. Yang. Saya. Temukan. Kembali. hahahahaha.
Ok, Selamat merenungi ungkapan orang ini.
Saturday, March 16, 2013
Memperbaiki Kancing Sweater
Kancing Sweater kesayangan akhirnya terlepas juga. Sabtu pagi.
Demi memenuhi rasa estetika dan agar dapat dipakai kembali maka aku harus segera memperbaikinya.
Berhasil aku mendapatkan jarum dan benang berwarna hitam. Aku pun mulai memperbaiki.
Kala hendak memasukkan benang ke dalam lubang jarum.
Aku merindukan orang yang selalu memintaku memasukkan benang ke dalam lubang jarum karena matanya sudah tak mampu. ibuku.
Kini suara permintaan itu tak akan pernah kudengar kembali. Selamanya.
Aku merindu lubang jarum dan benangnya menyapaku kembali.
Friday, December 7, 2012
Pada senyum dan tawa mereka..
Monday, December 26, 2011
Profesor di Persimpangan Jalan
Empat tahun sudah aku bersamanya. Dua tahun lebih aku telah meninggalkan kampus. Mencari kehidupan sesungguhnya. Membuktikan dan menjalani sebagian besar nasihat-nasihatnya. Hingga kini.
Pagi itu aku bertemu kembali dengannya.
Menyapanya di persimpangan jalan.
Seorang fisikawan yang dimiliki negeri ini. Namun tak banyak orang awam mengenalnya. Tak banyak pula berita mengenainya. Dalam lingkungan Ilmiah (khususnya dunia fisika) beliau cukup dikenal baik. Banyak pula relasinya. Dari macam orang sipit timur jauh. Jepang. Hinggapara ilmuan tinggi besar ras kaukasoid eropa.
Apa yang akan ku ceritakan dengan ringkas ke depan di tulisan ini adalah bukan tentang perjalanan hidupnya. Bukan pula tentang hubungannya dengan fisika. Bukan, bukan sama sekali.
Aku hanya akan sedikit bercerita tentang sebuah perasaan dalam hati ini. Tak enak rasanya bila tidak dibagi kepada orang lain. Sebab bagiku. Perasaan ini begitu indah.
Aku masih duduk-duduk di pinggir jalan menunggu kawan dengan sepeda motornya. Tentu pagi itu aku hendak berangkat kerja. Ke sekolah lebih tepatnya. Tak beberapa lama sosok itu hadir di hadapanku. Tiga meter kurang lebih jarak kami. Ia berjalan kaki sambil menunduk. Mengenakan rompi dan tas yang biasa ia pakai. Dandanan dan sisiran rambut seperti biasa. Tak berubah semenjak pertama aku mengenalnya.
Apa yang berubah? Aku tak yakin dengan pasti. Rambutnya yang telah banyak memutihkah? Atau keriput yang semakin banyakkah? Secara teori sih iya. Namun aku tak perlu lah memastikan itu.
Ia masih saja berjalan menunduk ketika aku sudah berdiri menunggu di hadapannya. Ia melihat ke arahku. Namun ia langsung kembali menunduk. Mungkin pikir beliau aku adalah orang yang biasa berlalu lalang. Aku tetap berdiri dan memasang senyum. Akhirnya beliau kembali melihat ke arahku. Ia baru menyadari. Bahwa laki-laki yang dari tadi berdiri sambil menyebar senyum hingga mungkin giginya telah mengering adalah salah satu mahasiswanya. Di jurusan fisika.
Ia membalas dengan dengan senyuman sambil berkata “ Oooohh, Kau!” dengan logat batak yang telah tercampur sedikit rasa sunda.
Tak banyak kami berbincang. Karena beliau dikejar waktu untuk mengajar di kampus. Bagiku itu bukan masalah. Namun hingga beberapa detik saat bersamanya aku merasakan desiran rasa bahagia di hati ini. Entah mengapa. Begitu nyaman.
Dan aku masih juga memasang senyum untuknya. Biarlah gigi ini mengering.
Ia kemudian pamit kepadaku untuk mengejar bus yang akan mengantarnya ke kampus.
“ Ya Pak, silahkan” ucapku
Beliau kembali berjalan menunduk menuju tempat berhentinya Bus. Dan aku masih disini. Berdiri dipinggir jalan dan menatap punggungnya dari kejauhan.
Pikiranku kembali melayang saat aku masih duduk di bangku kuliah dahulu. Betapa banyak kata-katanya yang telah menyita perhatianku. Menginspirasiku. Masih ingat di kepala ini bagaimana ia dulu berkata dengan lincah.
Bahwa pantang orang fisika berkata tidak mampu, apabila ditawari sebuah proyek. Orang fisika harus mampu bertanggung jawab. Masalah gagal itu urusan belakangan yang penting kita telah membuat orang lain percaya kepada kita dan berusaha sekuat tenaga.
Dahulu ia dengan tegas dan wajah galak menegurku ketika aku tidak mampu menjelaskan dan membuktikan persamaan model matematika yang aku usulkan pada penelitianku.
“Apa Kau main sulap Okky? Tiba-tiba muncul persamaan itu. Dari mana? Tak boleh itu!!” Aku masih ingat perkataannya.
Perkataan yang telah membuat aku belum layak lulus seperti dua partnerku yang lain. Perkataan yang membuat aku mengurung diri di kosan beberapa minggu untuk mencari jawaban atas pertanyaanya. Pertannyaan yang menyebabkan aku harus menulis ulang skripsiku. Menyebalkan memang. Sangat sedih bahkan.
Apa aku membencinya?
Tidak kawan. Sungguh aku tidak sedang berkata bohong padamu. Justru semenjak itu hingga sekarang aku menyadari bahwa beliau sedang mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab kepadaku.
Kejujuran dan tanggung jawab itu tidaklah mudah Bung.
Sungguh ia adalah guru yang telah menginspirasiku.
Bila boleh jujur aku ingin sepertinya. Aku merindukan perjumpaan seperti itu dengan murid-muridku. Ketika aku telah menua nanti. Telah berkurang kemampuan akal ini. Salah seorang muridku menyapaku dengan rasa senang dan bangga seperti yang kurasakan saat itu.
Mungkin saat itu aku telah lupa kebersamaan apa atau pelajaran apa yang telah kuberikan padanya. Aku tak ingat meski sekeras mungkin aku mencoba mengingat. Mungkin juga aku telah lupa namanya. Namun satu hal yang pasti kutahu dari wajah muridku itu. Bahwa ia bahagia bertemu denganku. Ia tunjukkan melalui senyumnya yang tulus.
Dan mencintai ku melalui sepotong ucapan,
“Pak Okky sehat Pak?”
Hanya kepada Allahlah aku berharap dan hanya kepada-Nya kebaikan kami dijadikan tabungan untuk bertemu kembali di Syurga-Nya.
26 Desember 2011. 09.53
Saturday, August 6, 2011
Perihal menyebrang jalan
Bagiku dan mungkin bagi sebagian kita berujar bahwa perihal menyebrang jalan adalah suatu yang biasa dan mudah untuk dilakukan. Kata tersulit yang muncul diantaranya mungkin hanya "engkau haruslah berhati-hati". Biasa kita dengar dan biasa kita pahami.
Tapi tidak untuk wanita paruh baya itu. Baginya menyebrang jalan adalah sesuatu yang besar. Perihal yang membebani bagian hidupnya hingga sebagai sebuah pencapaian besar bila sudah melaluinya. Di akhir pencapaiannya tersebut ia rela untuk mengajak orang yang menolongnya menyebrang jalan untuk singgah dirumahnya. Tulus menawarkan sebagai ungkapan terimaksihnya yang sangat besar.
Friday, February 13, 2009
self-leadership
“When I was a young man, I wanted to change the world. I found it was difficult to chance the world, so I tired to chance my nation. When I found I could not change the nation, I began to focus on my town. I could not chance the town and as an older man, I tried to change my family. Now, as an old man, I realize the only thing I can change is my self, and suddenlyI realize that if long ago I had change my self, I could have made an impact on my family. My family and I could have made an impact on our town. Their impact could have changed the nation and I could indeed have changed the world”
This phrase shows me that core of the leadership is self-leadership. It is simply tips and important for me. “Choose something small you can start doing now that will help you achieve a bigger goal or resolution.” Steven R. Covey said.
I, you and every person do not like regret. In order to, we have to start from our selves. Think small things and do little kindness. With full surrender, the alteration towards of goodness could we get.
Monday, November 17, 2008
Lintang
Lintang
Semua yang pernah membaca atau menonton kisah Laskar Pelangi tentu mengenal dengan sangat akrab tokoh yang namanya saya tulis sebagai judul tulisan ini seperti seorang ayah yang mengenal anak kandungnya sendiri. Dan tulisan ini hendak menyampaikan sebuah motivasi besar yang penulisnya, Andrea Hirata, menguraikan melalui tentang tokoh ini. Aku ingin menuliskan kembali karena bagiku ada atau tidak sesungguhnya sosok lintang itu, yang pasti narasi andrea telah memberikan ruang tersendiri di benakku untuk lebih berani kembali mencintai ilmu dan menggapai mimpi.
Andrea menulis tentang sosok ini, “ Lintang adalah pribadi yang unik. Banyak orang merasa dirinya pintar lalu bersikap seenaknya, congkak, tidak disiplin, dan tidak punya integritas. Tapi Lintang sebaliknya. Ia tidak pernah tinggi hati, karena ia merasa ilmu demikian luas untuk disombongkan dan menggali ilmu tak ada habis-habisnya..
Meskipun rumahnya paling jauh tapi kalau datang ia paling pagi. Wajah manisnya senantiasa bersinar walaupun baju, calana, dan dan sandal cunghai-nya buruknya minta ampun. Namun sungguh kuasa Allah, didalam tempurung kepalanya yang ditumbuhi rambut gimbal awut-awutan itu tersimpan cairan otak yang encer sekali. Pada setiap rangkaian kata-kata yang ditulisnya secara acak-acakan tersirat kecermelangan pemikiran yang gilang-gemilang. Di balik tubuhnya yang tak terawat, kotor, miskin, serta berbau hangus, dia memiliki an absolutly beatiful mind. Ia adalah buah akal yang jernih, bibit genius asli, yang lahir disebuah tempat nun jauh di pinggir laut, dari keluarga yang tak satu pun bisa membaca”.
Lihat kawan bagaimana Andrea menilai sahabatnya ini. Andrea memberikan gambaran tokoh ini atas dasar motivasi besar yang dapat ia ambil dan yang ingin ia bagikan kepada kita. Sebuah keterbatasan yang jarang kita temui, tetapi menimbulkan kekaguman atas keunggulan yang sedemikian harum. Kemudian Andrea menulis kembali. “Lebih dari itu, seperti dulu kesan pertama yang kutangkap darinya, ia laksana bunga meriam yang melontarkan tepung sari, ia lucu, semarak, dan penuh vitalitas. Ia memperlihatkan bagaimana ilmu bisa menjadi begitu menarik dan ia menebarkan hawa positif sehingga kami ingin belajar keras dan berusaha menunjukkan yang terbaik.”
“Jika kami kesulitan, Ia mengajari kami dengan sabar dan selalu membesarkan hati kami. Keunggulannya tidak menimbulkan perasaan terancam bagi sekitarnya, kecermelangannya tidak menerbitkan iri dengki, dan kehebatannya tidak sedikitpun mengisyaratkan sifat-sifat angkuh. Kami bangga dan jatuh hati padanya sebagai seorang sahabat dan sebagai seorang murid yang cerdas luar biasa. Lintang miskin duafa adalah mutiara, gelana, kuarsa, dan topas yang paling berharga bagi kelas kami.”
Malam ini aku mendapatkan suatu pelajaran sikap. Sikap sebagai penuntut ilmu yang tulus dalam memaknai arti penggabungan antara kecerdasan dan kerendahan hati. Aku belajar dari seorang anak yang bersinar diantara rimbunan daun hutan masyarakatnya. Anak itu adalah lintang yang tak ku kenal. Salamku untukmu lintang
Keinginan Kuat
Keinginan kuat
Sungguh dua kata dalam judul tulisan ini kuyakini benar adalah ruh dari setiap aktivitas manusia. Ia pun laksana bensin untuk menggerakkan piston mesin sebuah kendaraan. Dua kata ini yang sering sekali kita semua dengar pada setiap pelatihan pelatihan motivasi menggapai kesuksesan hidup, Apapun bentuknya. Begitu besar dua kata ini memiliki pengaruh sehingga aku pun ikut mengambil bagian dalam merasakan beberapa keutamaan ketika aktivitas kehidupanku menggandeng kedua kata ini.
Melalui buku yang kubaca, berjudul laskar pelangi. Penulisnya mencoba mengokohkan ketangguhan dua kata ini dalam sebuah cerita sederhana yang bagiku semakin memperindah paradigma keampuhan sebuah keinginan kuat. Dalam buku tersebut penulisnya bertutur “hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimanapun terbatas keadaannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. Siapapun tak pernah membayangkan sekolah kampung Muhammadiyah melarat dapat mengalahkan raksasa-raksasa di meja mahoni itu, tapi keinginan kuat, yang kami pelajari dari petuah Pak Harfan sembilan tahun yang lalu di hari pertama kami masuk SD, agaknya terbukti. Keinginan kuat itu telah membelokkan perkiraan siapapun sebab kami tampil sebagai juara pertama tanpa banding. Maka barangkali keinginan kuat tak kalah penting dibanding cita-cita itu sendiri.”
Membaca tulisan ini, pikiranku melayang ke suatu hari kurang lebih empat tahun yang lalu ketika aku duduk bersama sahabat-sahabatku mendengarkan nasihat yang berharga dari salah seorang guru ngajiku. Beliau berujar “ ..biasakanlah tetapkan sebuah tujuan tinggi dalam melakukan setiap aktivitas kehidupan kalian. Karena sebuah tujuan yang tinggi yang ditempuh dengan keinginan yang kokoh akan memunculkan kebaikan-kebaikan yang diluar perkiraan kita sebagai bonus. Kebaikan-kebaikan tersebut akan menentramkan dengan segera dan tidak melengahkan dalam meraih tujuan yang tinggi tersebut.” Dalam hati aku bertanya, seperti apakah tujuan yang tinggi tersebut. Sebelum sempat pertanyaan keluar dari mulutku. Beliau kembali berujar “ Tujuan tinggi dan paling tertinggi adalah keihlasan dalam menggapai Keridhaan Allah SWT”.
Melalui nasihat ini beliau melepasku ketika aku berpamitan untuk melanjutkan studi tingkat tinggi di bandung.







