Showing posts with label Fieldtrip. Show all posts
Showing posts with label Fieldtrip. Show all posts

Tuesday, June 28, 2016

Buka Puasa Bersama di Gedung Negara Pakuan Bandung

Bulan Ramadhan kali ini, saya dan bersama kawan-kawan guru di sekolah mendapatkan sebuah pengalaman berharga. Berkesempatannya kami semua mengunjungi rumah dinas gubernur Jawa Barat, Gedung negara Pakuan.

Kami; para guru, siswa dan orang tua diundang oleh Pak Ahmad Heryawan dan Ibu Netty untuk hadir dalam kegiatan buka puasa bersama pada tanggal 24 Juni 2016. Sungguh sebuah pengalaman yang akan memberikan manfaat kepada kami semua. 

gedung Pakuan Bandung
Gedung Pakuan

Sunday, April 17, 2016

SMA 3 Bandung -Catatan Kunjungan (Bag. 2 akhir)


Saya lanjutkan tulisan kunjungan saya ya sahabat....

Setiap kelompok yang terdiri dari beberapa siswa mempersentasikan penelitian yang telah dilakukan selama kurang lebih empat bulan. Begitu beragam hasil penelitian yang disampaikan sampai-sampai saya berpikir betapa kreatifnya anak-anak ini. Setingkat SMA sudah dapat melakukan penelitian-penelitian seperti itu. Diantaranya, pembuatan efek sound dari gitar listrik dengan biaya yang lebih murah, perhitungan massa jenis dengan konsep balon udara Archimedes, pembuatan sensor pengisi air minum galon secara otomatis, visualisasi gelombang bunyi dengan menggunakan serbuk pada piringan besi, headphone peredang suara, sensor gempa sederhana, dan masih banyak lagi yang saya sudah lupa hehehe…


Monday, February 29, 2016

[Jambi] Berkunjung dan Berbagi Bersama Pendidik Tanjung Jabung Barat

Akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di bumi Allah yang lain. Mengumpulkan puing-puing mimpi untuk mengelilingi indonesia dengan berbagi inspirasi. Memperkaya pengalaman dan ilmu dengan orang-orang ispiratif dari daerah-daerah di seluruh nusantara.

Kali ini saya diamanahkan untuk berbagi dengan para pendidik di daerah cukup pedalaman di propinsi Jambi, Tanjung Jabung Barat. Bermitra dengan Provisi Education yang berkantor di Jakarta kemudian pihak sponsor utama yaitu perusahaan migas Petrochina.

Tanjung Jabung Barat adalah sebuah tempat yang jauh lebih pedalaman di bandingkan tempat saya berbagi sebelumya, di mana listik adalah sesuatu yang harus dimaklumi sebagai sebuah komoditi mewah.


Saturday, January 9, 2016

[Sumatera Selatan] Belajar dan Bermain Bersama di Musi Rawas (Bag. Akhir dari 3 Tulisan)

Saya bersyukur kepada-Nya akhirnya sampai juga di tulisan yang terakhir untuk perjalanan saya belajar bersama teman-teman guru di Kabupaten Musi Rawas Propinsi Sumatra Selatan.

Maaf sekali Sahabat/Bapak Ibu tulisan akhir ini baru saya tuliskan di Blog ini. Padahal, idenya sendiri sudah beberapa bulan lalu dan padahal pula tahun telah berganti (berarti, kemana aja saya selama ini? hehe).  Tapi tak apa, tulisan ini sekalian melepas rindu dengan Musi Rawas dan orang-orang hebat yang saya kenal :)


Friday, October 23, 2015

[Sumatera Selatan] Materi Alat Peraga Sederhana (Infografik)

Saat di Musi Rawas saya berkesempatan untuk berbagi ide dan pengalaman kepada guru-guru di sana. Senang rasanya bisa bertemu dan berbagi pikiran dengan mereka.

Salah satu hal yang kami bahas dan diskusikan adalah mengenai pentingnya alat peraga dengan bahan sederhana dalam pembelajaran IPA.

Berikut saya rangkum dalam infografis yang saya buat sendiri : mengapa alat peraga sederhana menjadi sebuah prinsip dan sangat diperlukan dalam pembelajaran IPA.

Semoga bermanfaat ya sahabat.


infographics learning tools
Infografik Alat Peraga IPA sederhana (designed by : Okky)





dipersilahkan bagi siapa saja yang ingin menyimpan file infografis tersebut. File penuhnya bisa di donwload di sini

Tulisan sebelumnya silahkan klik


Salam

OFTM

Thursday, October 15, 2015

[Sumatra Selatan] Berkunjung Ke Musi Rawas

Seminggu yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi kabupaten Musi Rawas Sumatera Selatan.

Mengapa saya tiba-tiba bisa ke sana kawan? 

Saya diundang oleh pihak konsultan pendidikan yang berdomisili di Jakarta bernama "Provisi Education" dan dinas pendidikan propinsi kabupaten Musi Rawas. Beberapa hari di Musi Rawas atau lebih tepatnya di kota lubuk linggau, saya diminta untuk berbagi metode pengajaran IPA yang menarik dengan menggunakan alat peraga berbahan sederhana.


Saturday, September 26, 2015

[Jepang] Istana Himeji

pinterest.com

Kunjungan mengesankan kami selanjutnya adalah istana Himeji yang merupakan istana kekaisaran terbesar di Jepang. Istana Himeji adalah sebuah istana yang terletak di kota Himeji, Perfektur Hygo, Jepang.

Kami menikmati keelokan dan kedigdayaan negeri sakura pada kala itu, dimana kami semua dibuat takjub oleh berbagai cipta karya kebudayaan bangsa jepang.

Istana Himeji dinilai sebagai peninggalan budaya milik dunia yang sangat berharga, sehingga pada tahun 1993 UNESCO memasukkan Istana Himeji ke dalam daftar situs warisan dunia untuk kategori warisan budaya.







Monday, August 24, 2015

[Jepang] Mural Unik di SPring-8

Di bawah ini adalah foto kami dengan background Mural unik bernilai seni pada dinding buatan di pusat akselerator partikel Jepang (SPring-8).

Foto diambil pada bulan Januari 2015



Wednesday, February 19, 2014

Lombok (Bag. 2)




Ia yang sedang menatap cakrawala.



- Pantai Tanjung An, Lombok. 2014





Wednesday, February 5, 2014

Lombok

Pulau yang Indah.

Budaya dan karya cipta yang indah.

Kain.

Sumber Gambar : Dokumen Pribadi






Friday, July 19, 2013

Video Reportase Singkat Pulau Pari





Alhamdulillah. Jumat pagi yang terasa begitu segar di bulan Ramadhan.

Haaaahhhh...
Sungguh jumat yang bahagia. Badan terasa begitu segar setelah kemarin akhirnya saya merasakan kembali kenikmatan bermain futsal bersama teman-teman guru di lapangan futsal sekolah. 

Dan Oh, Saya baru teringat kalau saya berjanji untuk membagikan Video reportase perjalanan ke pulau Pari yang lalu. 

Janji saya itu insyaAllah terwujud dengan didukung internet sekolah yang lumayan asoy. hehe

Silahkan disimak, semoga bernilai kebaikan bagi saya dan Anda semua.

Salam



Thursday, July 4, 2013

Pulau Pari

Pulau Pari. 11-14 Juni 2013

Bismillah.

Senang rasanya bisa kembali menulis tentang perjalanan seru bersama anak-anak.

Sahabat, kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi ‘surga’ di kepulauan seribu. Sebuah pulau kecil dan terpencil. Pulau itu dikenal sebagai pulau Pari. 

Setelah sebelumnya saya sempat live tweet di @guraru_ID, kini saya ingin berbagi melalui tulisan ringkas. Semoga bermanfaat bagi pembaca. 

Pulau Pari, dari namanya kita akan mengira-ngira bahwa pulau tersebut diberi nama Pari karena mungkin bentuknya yang menyerupai ikan Pari. Dan memang benar, pulau ini bila di lihat di peta dengan skala tertentu akan menyerupai ikan Pari. Dan apakah di pulau tersebut banyak ikan Parinya? Entahlah. Tetapi selama saya berada disana. Baik di darat maupun di laut. Tidak menemukan ikan yang menyerupai kelelawar tersebut.

Dengan membawa konsep outdoor farewell, saya dengan beberapa rekan guru membawa sekitar empat puluh lima siswa. Mereka semua kelas sembilan. Telah menyelesaikan Ujian Nasional. Sayang rasanya bila acara tersebut hanya bersenang-senang saja, pikir saya. 

Akhirnya kegiatan tersebut dirancang sedemikian rupa dengan tetap ada nilai-nilai pembelajaran. Sekali mendayung dua pulau terlampai, begitulah kira-kira. Apa yang kami lakukan di sana sangatlah menyimpan kesan di benak kami masing-masing. Selain tentunya kami mendapatkan kebersamaan yang terakhir kali di SMP, kami juga mendapatkan pengalaman yang sebelumnya kebanyakan dari kami belum merasakannya. Mengenal dan membantu masyarakat dalam budidaya tanaman Bakau di pesisir pantai, mengintip lokasi penelitian oseanografi LIPI, Mengenal corak masyarakat di pulau terpencil, merasakan suasana pantai di malam hari dengan pesta ikan, dan yang paling menakjubkan adalah melihat terumbu karang dan ikan-ikan lucu secara langsung melalui kegiatan snorkeling. Sungguh sebuah pengalaman seru yang tak akan terlupakan. 

Sebuah kegiatan yang rasa-rasanya ingin kami ulang kembali setiap tahun. Membawa kembali keseruan-keseruan yang baru. Semoga apa yang kami lakukan ini bernilai kebaikan di sisi-Nya. 

Sahabat, mungkin foto-foto yang akan saya share berikut bisa menambah nilai manfaat kepada sahabat semua.
   
Silahkan sahabat kunjungi link berikut

Sunday, October 21, 2012

Ujung Genteng Seru

Fieldtrip kali ini adalah termasuk fieldtrp yang panjang dan melelahkan. Tapi semuanya itu telah terbayar dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Begitu nyata dan dekat pada dua hari kemarin. Fieldtrip ini telah membawa begitu banyak pengalaman bagi semua, tak hanya pengetahuan. Beberapa bentuk kenangan manis yang akan mereka kenang selalu.
Berikut adalah beberapa dokumentasi menarik yang tersimpan. 

Kumpulan foto dapat sahabat lihat di sini
 
Menatap Langit. Foto Oleh : Yedi Supriyadi



Melompat. Foto Oleh : Bambang



Saturday, September 29, 2012

Mengagumi Ujung Kulon...

Semenjak kecil kata Ujung Kulon telah hafal di kepala sebagai tempat hidup dan pelestarian badak spesial becula satu. Hanya itu. hingga hari di mana aku bersama beberapa kawan menginjakkan kaki di taman nasional Ujung Kulon, Banten. Begitu banyak habitat Flora dan Fauna yang mengagumkan dan membuat kami bangga sebagai manusia yang terlahir di gugusan Negeri ini. Bangga sekaligus merasa bertanggung jawab untuk berusaha menjaganya. Tahun 1992, Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai Natural World Heritage Site dengan Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.
Beberapa Fauna yang membuatku berdecak kagum dapat sahabat simak dalam posting kali ini.


Buaya muara termasuk spesies buaya terbesar di dunia Sumber : TNUK


Lebih lengkapanya dapat disimak di sini

Saturday, May 26, 2012

Pengarung purba itu telah merampas semua kelatihan kita (Bag.2-seleai)


                                  (Foto Oleh : Bya Nabila Aulia)

Teknik bertelur penyu yang kami tunggu dengan penuh kesabaran tersebut adalah teknik bertelur yang tak pernah di ajarkan dari generasi ke generasi. Semua berjalan begitu alamiah. Allah SWT yang telah membimbing penyu laut untuk meneruskan generasinya. Selama jutaan tahun, ritual bertelur itu terbukti ampuh melestarikan individu baru penyu. Menurut peneliti, garis keturunan penyu laut menjangkau waktu sejauh 200 juta tahun silam. Selama riwayat bumi kita, dengan meneliti fenomena-fenomena fosil, para ilmuan meyakini ada lima peristiwa kepunahan massal di muka bumi. Beberapa penyebabnya adalah, bisa berupa hantaman meteor raksasa ataupun perubahan iklim yang ekstrim. 

Pada masa Crestaceus, tercatat sekitar 65 juta tahun yang laut, kehancuran yang kelima telah menghapus 17 persen famili makhluk hidup yang ada. Tujuh spesies penyu laut yang kini menghiasi bumi adalah jenis reptil purba yang selamat. Sungguh sayang bagi kawanan dinosaurus, makhluk hidup segenerasi penyu itu musnah tanpa sisa. Dan hingga kini penyu hidup dan lestari sebagai pengarung purba. Menjelajah samudra. Melintasi zaman. 

Tak selang beberapa lama, Pak Zanawi bergegas memberitahu kami bahwa ada beberapa induk penyu yang sedang bertelur dan prosesnya sudah boleh diamati. Oh, betapa senang hati kami. Tanpa pikir panjang kami semua bersegera melintas rimbunan semak menuju pantai guna menyaksikan perkembangbiakan pengarung purba tersebut. 

Jika anda bersama kami berlutut disana menyaksikan proses menakjubkan tersebut, maka anda akan sepakat bahwa segala keletihan yang dirasa telah terbayar sudah. Tunai. Pengarung purba itu telah merampas semua keletihan kita. Belum pula usai kami mengamati satu induk penyu, kami kembali diajak Pak Zanawi untuk menyaksikan induk penyu yang lain. Meski dengan berkorban berjalan di bibir pantai yang gelap gulita. Akhirnya kami dibuat takjub oleh besarnya tubuh induk penyu itu. “Bisa mencapai satu kuintal beratnya” ujar Pak Zanawi. Jenis penyu yang kami amati saat itu adalah jenis penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) tercatat paling banyak berdiam dan berkembangbiak di perairan Nusantara. 

Jam telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Saya kemudian mengajak dan menghimpun anak-anak agar segera kembali ke bus untuk pulang menuju penginapan. Kami pun berpamitan. Saya dan beberapa guru sebelumya telah membuat janji untuk kembali esok pagi guna membawa anak-anak melepas tukik (anak penyu) ke lepas pantai. 

Selama perjalanan menuju penginapan saya berpikir, betapa hebat pengarung purba tersebut dan betapa agungnya sang pencipta. Bersyukur sekali bahwa saya, teman-teman guru dan anak-anak bisa menjadi saksi proses perkembangbiakan salah satu makhluk purba yang tersisa di dunia ini. Betapa hebat pengalaman kita malam itu. Semoga dengan pengalaman tersebut menjadikan kita semakin bersyukur kepada Allah SWT. Bus yang kami tumpangi berjalan melambat membelah hutan. Dan ketika saya lihat ke belakang, anak-anak telah tertidur pulas. 
Semoga esok pagi kita bisa melepas tukik bersama-sama ya anak-anak!

Sunday, May 20, 2012

Pengarung Purba itu Telah Merampas Semua Keletihan Kita (Bag.1)


                                     (Foto Oleh : Bya Nabila Aulia)

Laiknya pencuri malam yang akan menyusup di tengah kegelapan. Ia mengendap di perairan dangkal pantai Pangumbahan. Dan telah pula ia menyatu dengan kelamnya malam. Makhluk itu mulai memindai hamparan pasir pangumbahan yang kini telah menghitam. Inderanya bersiaga meniti alam pesisir. Keheningan adalah syarat pertama yang harus ada. Sunyi, tanpa hadirnya pemangsa adalah suatu keharusan. Bila semua telah terpenuhi, dia akan terus merangkak sekuat tenaga untuk maju menuju tempat. Tempat dimana generasi baru akan muncul. Setiap senti langkah yang ditempuh adalah bentuk perjuangan. Perjuangan yang akan menguras banyak energi. 

Sampai pada sudut pantai yang ia anggap nyaman, kaki depan makhluk tersebut mulai menyekop pasir untuk lubang sandar tubuh besar-nya. Kemudian, kaki belakang mulai menggali liang untuk tempat bertelur. Satu hingga dua jam ke depan, butir-butir telur berisi generasi baru menggelinding ke luar. Tak lebih besar dari bola pimpong telur-telur tersebut saling bertumpuk. Usai proses bertelur selesai, sang induk meratakan lubang peteluran. Untuk mengelabui pemangsa, sang induk membuat sarang tipuan. Sekali lagi, upaya keras masih diperlukan untuk kembali pulang ke samudra Hindia yang telah menunggu. 

Sekitar belasan meter di balik tepi pantai, tepatnya di lokasi konservasi penyu Pangumbahan. Kami semua menunggu dengan rasa cemas. Apakah kami beruntung dapat menyaksikan proses yang sangat menakjubkan dari makhluk tersebut? Belum ada yang bisa menjawab pasti pertanyaan kami kala itu. 

Setelah kami menghabiskan makan malam dan mendengarkan penjelasan yang sangat menarik tentang konservasi penyu dari pak Zanawi. Perlu kawan ketahui bahwa Pak Zanawi ini adalah merupakan koordinator lapangan konservasi penyu Pangumbahan tempat dimana kami berkunjung. Deburan ombak meraung-raung beberapa meter dari kami dan kami masih juga diliputi rasa cemas. Keletihan perjalanan panjang juga tak mau lepas dari tubuh kami. 

Waktu telah menujukkan pukul sembilan malam. Saya berhimpun bersama murid di sisi pagar tempat pengeraman telur-telur penyu. Saya berbincang dengan beberapa diantara mereka untuk sekedar sedikit melupakan rasa letih dan kantuk. Saya berusaha agar anak-anak sedikit lebih bersabar untuk menunggu kedatangan penyu-penyu menakjubkan tersebut. Peritiwa bertelur menakjubkan yang terngiang-ngiang di benak kami.

Tuesday, April 10, 2012

Surga Tersembunyi itu Bernama Pantai Pangumbahan (Bag.2-selesai)

(Foto oleh : Bya Nabila Aulia)

Ah, betapa senang hati kami ketika hamparan Samudra Hindia menyambut kami di ujung jalan. Angin sepoi-sepoi mengelus-ngelus wajah dan tubuh kami yang telah penuh dengan peluh. Aroma laut pun menghampiri kami. Kami telah menginjakkan kaki di Ujung Genteng. Kemudian dengan segera saya menginstruksikan untuk semua rombongan agar bergegas menuju pantai Pangumbahan. Pantai dimana tempat kami semua akan melepaskan tukik (baca : penyu balita) bersama-sama ke laut lepas. Sebuah program utama yang akan kami ikuti dari konservasi penyu pantai Pangumbahan setiap harinya.

Pantai Pangumbahan yang kami tuju sesungguhnya dapat dilalui dengan lancar dengan menggunakan motor dan kendaraan 4WD. Namun kami tak berputus asa. Meski menggunakan bus kecil, kami tetap bersikeras untuk dapat melampaui medan jalan yang sulit. Satu bus telah tiba tepat waktu, sedangkan bus yang saya tumpangi masih kesulitan meniti jalan. Akhirnya kami terpaksa untuk tidak dapat melepas penyu secara bersama-sama. Walaupun demikian, tak henti-hentinya kami bersyukur bahwa kami telah tiba dengan selamat dan disambut oleh gemuruh deburan ombak yang menerjang bibir pantai. Suatu yang sangat jarang kami dapati. Tak hanya itu, kami sempat terpesona oleh pemandangan Pantai Pangumbahan di saat senja.

Meski perjuangan kami sungguh berat, tapi ‘ganjaran’ yang didapat setimpal. Pantai Pengumbahan memiliki hamparan pasir putih dan warna air laut yang jernih kehijauan. Sungguh sedap dipandang. Di batasi oleh berbagai jenis vegetasi semak dan pepohonan. Dimana vegetasi tersebut nantinya menjadi tampat para induk penyu bertelur. Menjadikan Pantai Pangumbahan adalah tempat yang sangat terlindungi. Sungguh sebuah surga indonesia yang tersembunyi.
Terdengar dari kejauhan riuh-rendah tawa anak-anak ketika mereka ayik bermain di pinggir pantai. Berlari-lari. Dan saya masih tepaku disini. Duduk menghadap cakrawala. Menikmati kesendirian. Kemudian saya memberanikan diri untuk meresapai kegagahan Samudra Hindia yang terbentang di hadapan. Betapa tegar ia. Dan betapa lemah diri ini.

Lamunan saya terpecah oleh malam yang hendak turun di Pangumbahan. Saya kembali berjalan ber-iringan bersama anak-anak menuju mushala tak jauh dari tempat konservasi untuk menuaikan kewajiban shalat. Untuk berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan ini.




Friday, April 6, 2012

Surga Tersembunyi itu Bernama Pantai Pangumbahan (Bag.1)


(Foto oleh : Didi Kusmayadi)

Pagi menjelang di tengah-tengah perjalanan kami. Saya, rekan guru dan semua murid berhimpun untuk menyelesaikan suatu urusan. Sarapan pagi. Sekitar tiga-puluh menit berlalu, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju sebuah lokasi yang dikenal sebagai Ujung Genteng. Sebuah nama lokasi yang agak asing di telinga memang. Sebab anda dan kebanyakan orang lebih mengenl dengan Ujung Kulon, sebuah area konservasi badak langka. Secara geografis, keduanya memang sama-sama terletak di ujung pulau, di sisi barat pulau jawa. Ujung Genteng berada di selatan Sukabumi. Kami telah melewati jembatan Bagbagan berwarna kuning yang teletak sebelum pelabuhan ratu, kami belok kiri, melintasi sungai Cimandiri, lalu kami mulai menyusuri pegunungan di belakang teluk. Dari sini, teluk menghampar untuk dilirik. Siap menyihir dengan sedapnya pemandangan. Kira-kira tak sampai satu jam, kami semua benar-benar telah meninggalkan Pelabuhan Ratu. Kami telah jauh meninggalkan hotel samudera tempat destinasi pertama kami di sukabumi. Pemandangan di kanan-kiri telah berganti menjadi alam pegunungan. Sebuah alam pegunungan yang sangat jarang ditemui.

Sinar mentari siang masih menemani kami. Bus yang kami tumpangi mulai melambat. Menyusuri jalan yang meliu-liuk. Tak berapa lama, kami telah sampai di jalan besar yang cukup lengang yang membelah perkebunan teh dan menghubungkan Bangbang ke Kiara Dua. Perbukitan hijau teduh memagari kedua sisi jalan. Pemandangan nan elok itu telah membungkus rasa penasaran kami. Hingga beberapa diantara kami terlelap tidur.


Kira-kira sejauh 30 meter dari Bangbagan, saya sampai di persimpangan Kiara Dua. Bila kita berbelok ke kiri, kita akan kembali ke Sukabumi. Sementara di sisi kanan terpampang dengan jelas penunjuk jalan bertuliskan Jampangkulon dan Surade, dua kecamatan sebelum Ujung Genteng. Sesungguhnya jarak Ujung Genteng-Pelabuhan Ratu tidaklah terlalu jauh, ‘hanya’ 87 kilometer. Namun karena jalan yang harus ditempuh berkelok-kelok, waktu tempuh jadi terasa lama, sekitar tiga jam. Relativitas waktu hadir di sini.


Kami melewati desa kecil bernama Surade, tempat terakhir dan terlengkap untuk membeli segala kebutuhan yang diperlukan. Beberapa kali sempat kami berhenti di SPBU untuk mengisi bensin dan keperluan kebelakang. Selepas dari sini, kita akan melalui daerah sepi yang tak memiliki pertokoan. Alhamdulilah jalan di desa Surade relatif lurus sehingga kendaraan dapat dipacu lebih cepat. Kami berebut dengan waktu.


Saturday, July 2, 2011

Ayo loncat!!!




(Photo Doc. My Student : Bening Embung Pagi)

Saya bersama murid telah melompat dari atas jembatan cinta laut pulau Tidung. Pengalaman yang sangat mengesankan. Banyak rasa dan nilai yang kami dapat. Anda berani mencoba?

Saturday, June 25, 2011

Snorkling di Pulau Tidung

(Photo Doc. My Student : Fitriana Saraswati)


Pengalaman snorkling yang hebat bersama murid tercinta di pulau Tidung yang menawan