Showing posts with label Life time stories. Show all posts
Showing posts with label Life time stories. Show all posts

Friday, December 30, 2016

Transistor Pertama

Kelahiran era digital, ditandai dengan pekembangan penemuan komputer yang di mana ketika alat-alat elektronik menjadi tak terpisahkan dengan kehidupan manusia sehari hari, baru benar-benar terjadi pada hari Selasa, 16 Desember 1947, di Murray Hill, New Jersey. Sejarah mencatatanya sebagai hari penemuan Transistor.
 
transistor
Transistor yang pertama kali dibuat pada tahun 1947 (Sumber : Beatrice Companies, Inc)
 

Thursday, January 23, 2014

Ada Seorang Lelaki Datang Menjumpai Muawiyyah

Ada seorang lelaki datang menjumpai Muawiyyah. 
Kebetulan, ia bertemu pertama kali dengan penjaga pintu gerbang kediaman beliau.

“Tolong beritahukan kepada Muawwiyah, saudaranya datang,” ujarnya.

Saat mendapatkan pesan itu, Muawwiyah terheran-heran, “Rasannya aku tidak kenal. Tapi biarkan dia masuk,” perintah beliau. Orang itu pun masuk.

Saat tiba di hadapan beliau, beliau bertannya, “Engkau saudaraku dari pihak mana?” tanya beliau.

“Dari Adam dan Hawa, “ jawab orang itu santai.

“Tolong berikan satu dirham kepada orang ini,” perintah beliau.

“Hai, kenapa engkau cuma memberi satu dirham kepada saudara seayah dan seibumu?” tanya orang itu dengan kesal.

Muawwiyah menjawab dengan santai, “Kalau setiap saudaraku dari Adam dan Hawa harus kuberi uang, pasti satu dirham itu pun tidak akan sampai ke tanganmu!”



Sumber : Kitab Al-Adzkiyyaoleh Iman Ibnul Jauzi. Ditulis ulang oleh Ustz. Abu Umar Basyir.

Friday, March 30, 2012

Rasullah dan perihal anak unta

Dari Anas diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi SAW dan berkata,
“Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan.”
Beliau berujar, “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta.”
Lelaki itu menukas, “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”
“Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” ujar beliau.

Sumber : Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab – 92 bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau hadist no. 3998 (V:270) dan dishahihkan oleh Al-Bani (Shahih Sunan Abi Dawud III : 943 No. 4180). Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al- Birr – 57, bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau hadist No. 1992 (VI : 207)




Monday, July 4, 2011

Manusia Langit (Bag.2. selesai)

“Apa yang akan kaupinta, anakku? Bicaralah. Selagi aku bisa memenuhinya,insya Allah engkau akan mendapatkannya.''
“Bu, semakin hari, aku semakin tersiksa oleh rasa rindu yang amat dalam kepada Muhammad. Sudah lama aku mendengar tentang beliau, tentang akhlaknya, tentang ajaran-ajarannya. Tetapi sampai hari ini aku belum pernah bertemu dengannya. Bu, bolehkah aku pergi ke Mekkah agar bisa betemu dengan beliau walau sebentar saja.''
“Uwais anakku. Kaulah satu-satunya karunia Allah buat ibumu. Karena Dia telah menjadikanmu sebagai anak berbakti. Kaulah yang senantiasa membantu segala yang kuperlukan. Namun, jika engkau sangat ingin menemuinya, tidak mengapa. Pergilah,sampaikan salam ibu kepadanya.”
“Oh, terimakasih, Bu.Tentu ,tentu salam ibu akan saya sampaikan.”
“Tetapi, satu pesan ibu,” kata sang ibu.
“ Apa yang akan ibu sampaikan? Katakanlah,Bu,” ujar Uwais.
“Nanti, setelah engkau bertemu Muhammad, segeralah pulang.Jangan lama-lama disana. siapa nanti yang akan membantu ibu selain engkau.”
“Tentu, tentu, Bu. Insya Allah, saya akan segera pulang,” Janji Uwais Al-Qarni.
Maka berangkatlah Uwais Al-Qarni, dengan membawa bekal secukupnya. Perjalanan dari Yaman ke Mekkah memakan waktu yang amat lama, karena jaraknya ratusan kilometer. Uwais menempuhnya dengan jalan kaki. Setelah melakukan perjalanan selama berhari-hari, akhirnya ia sampailah ia ke Mekkah. Dengan pertolongan Allah, Dalam perjalanannya Uwais tak menjumpai badai atau pun para penyamun padang pasir yang biasanya menghadang para pedagang.
Sampai di Mekkah, Uwais langsung mendatangi rumah Rasulullah. Namun sayang, Uwais tidak menjumpai siapun kecuali putri beliau, Fatimah.
“Maaf”, kata Fatimah.”Kalau boleh tahu anda ini siapa? darimana asal anda?”
“saya Uwais Al-Qarni. Saya datang dari Yaman ingin bertemu Muhammad Rasulullah.”Kata Uwais.
Fatimah terkejut sekali. Betapa kuat pemuda ini, betapa cinta pemuda ini kepada Ayahnya. Dari Yaman ke Mekkah dengan jalan kaki hanya untuk menemui Rasulullah. Ah,andaikan Rasulullah ada, pasti dia senang sekali. Namun sayang beliau sedang pergi. Begitu kata fatimah dalam hati.
Fatimah kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Uwais Kaget, wajahnya tampak sekali. "Bagaimana? Sebaiknya engkau menunggu sebentar. Sepertinya tak lama lagi ayahanda akan pulang,” bujuk Fatimah.
“O,tidak, tidak,” jawab Uwais. “Saya telah berjanji kepada ibu saya untuk tidak berlama-lama di Mekkah. Saya harus segera pulang. Ibu saya sudah tua, badannya lemah. Nanti kalau saya sudah pulang, siapa yang akan membantunya?”
“Tetapi kamu kan belum bertemu Rasulullah. Sedangkan perjalanan dari Yaman ke Mekkah jauh sekali. Sia-sia sekali jika kamu pulang begitu cepat,” kata Fatimah.
“TiFatimah tetap tidak dapat mencegah Uwais pulang. Padahal, tidak lama kemudian, Rasulullah datang diikuti Umar Bin Khattab dan Ali Bin Abi Thalib. Tidak disangka-sangka, rasulullah bertanya, “Wahai Fatimah? apakah tadi ada seorang pemuda dari Yaman yang ingin bertemu denganku?”
“Benar, Wahai Ayahanda?”jawab Fatimah.”Darimana ayah tahu?”
“BaFatimah terkejut. Begitu juga Umar dan Ali.
“Siapakah dia sebenarnya, Rasulullah? Kenapa ia begitu istimewa?” tanya Umar.
“Dia Uwais Al-Qarni. Kenapa ia begitu istimewa? Karena ia bukan manusia bumi, melainkan manusia langit,” jawab Rasulullah singkat.
Sejak peristiwa itu, Umar dan Ali tidak bertemu dengan Uwais Al-Qarni. Ia juga tak tahu pasti, kenapa sampai dijuluki manusia langit. Karena, Rasulullah tidak memberitahu dengan jelas. Pada masa khalifah Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan Ali Bin Abi Thalib ra. baru bertemu dengannya dalam area perdagangan di Syam. Keduanya langsung minta didoakan. Akhirnya, Umar dan Ali Tahu mengapa Uwais diberi gelar sebagai penduduk langit. Sebuah julukan yang begitu mulia, julukan yang menyamai para malaikat Allah. Ia begitu cinta Rasulullah dan sangat berbakti kepada ibunya.
(diambil dari buku kisah sahabat Nabi dengan edit seperlunya. Dan diketik oleh dua bidadari kecil, Adikku Inne dan Hanifah semoga Allah menjadikan kalian berdua muslimah yang diridhoi-Nya)

Friday, July 1, 2011

Manusia Langit (Bag.1)

Di negeri Yaman, Tinggallah seorang pemuda penggembala bernama Uwais al-Qarni. Ia seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya yang sudah tua. Ia sangat berbakti kepada sang ibu. Ia mau mengurusi segala yang dibutuhkan ibunya sejak dari bangun tidur hingga tidur kembali. Sehabis Dzuhur hingga sore, Uwais menggembalakan kambing-kambingnya ditanah lapang. Disaat menggembala, sering ia bertemu khalifah-khalifah pedagang Yaman yang pulang dari mekah. Suatu hari, seorang pemimpin khalifah berkata kepadanya. “Hai anak muda. Maukah engkau kuberitahu satu hal?”
Apakah yang paman akan beritahukan,” tanya Uwais. Pemimpin khalifah kemudian memberitahu.” Di Mekkah telah datang seorang rasul, namanya Muhammad. Ia cucu Abdul Muthalib yang lahir dari rahim Aminah, istri Abdullah. Muhammad adalah manusia yang selalu berkata benar, pengasih dan penyayang kepada sesamanya. Maka Ia dijuluki AL-Amin. “Ia datang kepada orang-orang Mekah membawa agama islam,'' Katanya .
Mendengar cerita itu ,Uwais muda terkagum -kagum. Baginya, Muhammad begitu agung dan mulia. Sejak itu, setiap kali khalifah- khalifah pedagang Yaman pulang dari Mekah, Uwais selalu berusaha mencari kabar sebanyak mungkin tentang Muhammad . Maka, semakin hari, semakin kagumlah ia kepada Muhammad. Hatinya pun lalu beriman kalau ajaran yang dibawanya benar. Sejak itulah didalam hatinya tumbuh rasa cinta yang dalam kepada Rasulullah SAW, meskipun ia belum pernah berjumpa dengan beliau.
Ibunya pun juga diberitahu tentang Muhammad, juga tentang ajaran-ajaran yang dibawanya. Mendengar cerita dari anaknya yamg tidak pernah bohong ,Ibu Uawis AL-qarni pun langsung percaya. ''Andaikan aku bisa bertemu Muhammad,tentu aku akan sangat bahagia”, ujar ibunya.
Suatu hari, Uwais AI-Qarni berbicara kepada ibunya. “Wahai ibu, bolehkah anakmu meminta satu hal?”
“Apa yang akan kaupinta, anakku? Bicaralah. Selagi aku bisa memenuhinya,insya Allah engkau akan mendapatkannya.''