Tuesday, April 10, 2012

Surga Tersembunyi itu Bernama Pantai Pangumbahan (Bag.2-selesai)

(Foto oleh : Bya Nabila Aulia)

Ah, betapa senang hati kami ketika hamparan Samudra Hindia menyambut kami di ujung jalan. Angin sepoi-sepoi mengelus-ngelus wajah dan tubuh kami yang telah penuh dengan peluh. Aroma laut pun menghampiri kami. Kami telah menginjakkan kaki di Ujung Genteng. Kemudian dengan segera saya menginstruksikan untuk semua rombongan agar bergegas menuju pantai Pangumbahan. Pantai dimana tempat kami semua akan melepaskan tukik (baca : penyu balita) bersama-sama ke laut lepas. Sebuah program utama yang akan kami ikuti dari konservasi penyu pantai Pangumbahan setiap harinya.

Pantai Pangumbahan yang kami tuju sesungguhnya dapat dilalui dengan lancar dengan menggunakan motor dan kendaraan 4WD. Namun kami tak berputus asa. Meski menggunakan bus kecil, kami tetap bersikeras untuk dapat melampaui medan jalan yang sulit. Satu bus telah tiba tepat waktu, sedangkan bus yang saya tumpangi masih kesulitan meniti jalan. Akhirnya kami terpaksa untuk tidak dapat melepas penyu secara bersama-sama. Walaupun demikian, tak henti-hentinya kami bersyukur bahwa kami telah tiba dengan selamat dan disambut oleh gemuruh deburan ombak yang menerjang bibir pantai. Suatu yang sangat jarang kami dapati. Tak hanya itu, kami sempat terpesona oleh pemandangan Pantai Pangumbahan di saat senja.

Meski perjuangan kami sungguh berat, tapi ‘ganjaran’ yang didapat setimpal. Pantai Pengumbahan memiliki hamparan pasir putih dan warna air laut yang jernih kehijauan. Sungguh sedap dipandang. Di batasi oleh berbagai jenis vegetasi semak dan pepohonan. Dimana vegetasi tersebut nantinya menjadi tampat para induk penyu bertelur. Menjadikan Pantai Pangumbahan adalah tempat yang sangat terlindungi. Sungguh sebuah surga indonesia yang tersembunyi.
Terdengar dari kejauhan riuh-rendah tawa anak-anak ketika mereka ayik bermain di pinggir pantai. Berlari-lari. Dan saya masih tepaku disini. Duduk menghadap cakrawala. Menikmati kesendirian. Kemudian saya memberanikan diri untuk meresapai kegagahan Samudra Hindia yang terbentang di hadapan. Betapa tegar ia. Dan betapa lemah diri ini.

Lamunan saya terpecah oleh malam yang hendak turun di Pangumbahan. Saya kembali berjalan ber-iringan bersama anak-anak menuju mushala tak jauh dari tempat konservasi untuk menuaikan kewajiban shalat. Untuk berterimakasih kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan ini.




No comments:

Post a Comment