Sunday, August 13, 2017

ALOP dan Keterampilan Abad 21

(Artikel ini dipublikasikan di Harian Umum Pikiran Rakyat 28 Juli 2017)

Beberapa pekan lalu, penulis bersama guru-guru fisika dari berbagai daerah di Indonesia diundang untuk mengikuti pelatihan ‘Active Learning in Optics and Photonics 2017 (ALOP 2017)’ yang dilaksanakan oleh Center for Young Scientists (CYS) bekerjasama dengan perusahaan penyedia media pembelajaran dan sebuah perguruan tinggi di Bandung. ALOP diprakarsai dan disponsori oleh UNESCO, SPIE (The International Society for Optical Engineering), dan ICTP (International Center for Theoretical Physics)[1]. Dari ALOP penulis mendapatkan pelajaran penting untuk menjadi pendidik abad 21.

Semenjak dimulainya perseteruan antara ilmuwan besar seperti Newton, Hooke, dan Huygens pada tahun 1672 mengenai watak cahaya[2], hingga kini manusia senantiasa antusias mempelajari dan mengekplorasinya. Ilmu Optik dan fotonik (partikel cahaya) adalah salah satu bidang yang sangat diperlukan. Banyak bidang kehidupan modern yang tidak dapat dilepaskan dari teknologi optik. Di antaranya adalah aplikasi telekomunikasi dan kesehatan. Kita mengenal adanya LASER, serat optik, layar sentuh, hologram dan sebagainya. Kita juga mengenal CT-Scan, MRI, dan berbagai alat pemindai penyakit lainnya.




Yang menarik, ALOP tidak hanya melatih guru untuk mengajarkan optik dan fotonik dengan cara yang asyik dan menyenangkan menggunakan metode PODS (Prediction, Observation, Discussion, Synthesis). ALOP juga menyadarkan para guru untuk mendidik siswa agar memiliki keterampilan abad 21 yakni berpikir kritis dan terbiasa melakukan penelitian. Keterampilan tersebut sangatlah dibutuhkan siswa. Tak heran bila PISA (Program for International Students Assesment) menjadikan keduanya sebagai standar indikator keberhasilan uji tesnya.

Negara-negara dengan hasil tes teratas sejatinya telah lebih dahulu menerapkan metode pengajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan meneliti para siswanya. Ada STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Amerika dan Eropa, STELR (Science and Technology Education Leveraging Relevance) di Australia dan metode-metode Active Learning lainnya[3]. Indonesia yang baru menyadari dan menerapkannya beberapa tahun ke belakang, wajarlah bila posisi PISA kita belum begitu memuaskan.  Meskipun demikian kita harus tetap optimis. Hasil tes PISA siswa Indonesia dalam sains semakin baik. Semenjak  mengikuti tes tahun 2012 dengan 382 poin menjadi 403 poin pada tahun 2015[4].

Kemudian, di tengah maraknya penyebaran berita bohong dan isu-isu rasial yang mengancam persatuan bangsa[5], berpikir kritis adalah sebuah keterampilan yang dapat meminimalisir atau bahkan menghilangkannya. Sedangkan keterampilan meneliti bertujuan agar siswa senantiasa melakukan kajian secara intens dalam menanggapi suatu informasi atau permasalahan sehingga menghasilkan pemikiran dan tindakan yang  bijak dan sarat akan keilmuan.

‘PR’ besar ini sesungguhnya tidak hanya dibebankan kepada guru-guru fisika dan sains pada umumnya, tetapi juga semua guru lainnya sebagai seorang pendidik abad 21. Langkah efektif untuk menggapai sasaran besar tersebut adalah dengan konsisten melatih diri menjadi contoh dalam berpikir kritis dan meneliti di sekolah maupun kehidupan sehari-hari.***


Penulis, Guru Fisika SMA Mutiara Bunda Bandung dan pengasuh komunitas edukasi Fisika, @mediafisika*


[1] Beberapa dokumentasi terlampir pada badan email.
[2] McEvoy, J.P dan Oscar Zarate. 2004. Teori Kuantum For Beginners. Bandung : Penerbit Mizan.
[3] Training on STELR-STEM Education oleh SEAMEO QITEP in Science dan ATSE (Australian Academy of Technological Science and Engineering). Training ini pernah diikuti pula oleh punulis.
[4] Kompas ,Edisi Sabtu, 29 April 2017
[5] Pikiran Rakyat Edisi 3 - 5 Juni 2017

No comments:

Post a Comment